Dinsos KBPP Gelar PPEP Tahap V: Kawal Perempuan Kendalrejo Menuju Usaha Yang Mandiri Dan Berkelanjutan

Pemalang, 24 September 2024–Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos KBPP) berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Kegiatan Pelatihan Peningkatan Produktifitas Ekonomi Perempuan (PPEP) Tahun 2026. Upaya meningkatkan kemandirian dan produktivitas ekonomi perempuan terus diperkuat melalui Program Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP). Salah satunya melalui pendampingan Kelompok Mentari Utami Desa Kendalrejo, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, yang mengembangkan potensi lokal berupa olahan ampas tahu menjadi produk bernilai ekonomi, yaitu Keripik Gembus dan Telor Ayam.
Kegiatan Pelatihan PPEP Tahap V Tahun 2026 dilaksanakan di Balai Desa Kendalrejo, Kecamatan Petarukan, Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan sinergi kolaborasi kelompok PPEP sekaligus memperkuat kapasitas perempuan dalam mengembangkan usaha ekonomi produktif.
Kepala Desa Kendalrejo, Titik Iswati, menyampaikan bahwa program PPEP telah berjalan sejak awal diterimanya bantuan. Dukungan tersebut telah dimanfaatkan kelompok untuk memenuhi kebutuhan usaha, termasuk pembelian peralatan produksi dan kebutuhan pendukung lainnya.
“PPEP sudah dilaksanakan sejak awal bantuan. Bantuan sebesar 8 juta sudah dibelanjakan untuk alat-alat dan kebutuhan lainnya dalam mendukung kegiatan kelompok,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial KBPP Kabupaten Pemalang, Supadi, A.KS., M.H., menekankan pentingnya keberlanjutan program agar bantuan yang telah diberikan dapat berkembang menjadi usaha yang produktif dan memberikan manfaat bagi anggota kelompok.
Kegiatan sekaligus dibuka oleh Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Perlindungan Perempuan Provinsi Jawa Tengah, Melati Diah Pamungkas, S.E., M.M., Dalam kesempatan tersebut, penguatan kapasitas kelompok perempuan menjadi bagian penting agar usaha yang telah dirintis tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mampu berkembang secara mandiri.
Kelompok Mentari Utami menjadi salah satu contoh inisiatif pemberdayaan perempuan berbasis potensi lokal. Kelompok yang beranggotakan 20 perempuan tersebut mengolah ampas tahu menjadi Keripik Gembus sebagai produk unggulan. Struktur kelompok telah terbagi dalam sejumlah fungsi, mulai dari produksi, pemasaran, pengadaan bahan baku hingga pengemasan.
Dalam proses pengembangannya, kelompok telah mendapatkan pendampingan terkait tata kelola kelompok, produksi, analisis SWOT, bantuan alat produksi, desain kemasan, hingga legalitas usaha. Produk Keripik Gembus Kelompok Mentari Utami juga telah memiliki NIB, PIRT, dan Sertifikasi Halal, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas akses pasar.
Narasumber dari Tim Kelompok Mentari Utami turut memaparkan perkembangan usaha, strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, serta tantangan yang masih dihadapi kelompok. Berdasarkan pemaparan kelompok, usaha tersebut telah memiliki kanal pemasaran digital dan pencatatan arus keuangan sebagai bagian dari penguatan tata kelola usaha.
Selain itu, hadir Anti dari Penggerak Perubahan Ekosistem Perempuan Kepala Keluarga Indonesia Wilayah Jawa Tengah (PEGAS PEKKA) yang turut memberikan perspektif dalam penguatan ekosistem pemberdayaan perempuan.
Kegiatan juga diikuti sejumlah perangkat daerah dan lembaga terkait, antara lain Kesra Provinsi Jawa Tengah, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, Bapperida, Dinpermasdes, serta BAZNAS Kabupaten Pemalang. Kehadiran lintas sektor tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai dukungan program yang dapat diakses pelaku UMKM dan kelompok perempuan.
Aspek pengembangan usaha juga mencakup perlindungan dan penguatan identitas produk. Pelaku usaha didorong untuk mendaftarkan merek sebagai bagian dari pengembangan dan perlindungan produk. Berbagai perangkat daerah masing-masing memaparkan keunggulan program dan bentuk dukungan yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan UMKM.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, PPEP diharapkan tidak hanya memberikan akses bantuan dan pelatihan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mampu memperkuat kemandirian ekonomi perempuan, membuka peluang kerja lokal, serta meningkatkan nilai tambah potensi desa.
Kelompok Mentari Utami sendiri masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain dinamika keaktifan anggota, perbedaan pendapat dalam kelompok, fluktuasi harga bahan baku, serta persepsi sebagian konsumen terhadap harga produk olahan gembus. Namun, tantangan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk memperkuat tata kelola dan keberlanjutan usaha.
Dengan pendampingan berkelanjutan dan sinergi antar-OPD, pengembangan usaha perempuan di Desa Kendalrejo diharapkan mampu tumbuh dari potensi lokal menjadi usaha mikro yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Kontributor: Anugrah Fitria Berliannanda